Minggu, 30 Oktober 2011

MANAJEMEN INVESTASI

MANAJEMEN  INVESTASI
Pertemuan I.
PENDAHULUAN
Rizal Zaelani
085723535999 / 087720856555

PENDAHULUAN
Seorang ayah sedang berpikir keras mengenai masa depan keluarganya. Sang ayah memikirkan bagaimana cara membangun keuangan keluarga agar bisa menyejahterakan keluarga di masa yang akan datang. Bagaimana anak-anak dapat sekolah ditempat yang terbaik, bagaimana memiliki dana pensiun yang akan dipakai untuk mencukupi kebutuhan pada masa tua atau masa-masa dia tidak produktif lagi,  dan masih banyak yang dipikirkan sang ayah.
Tiba-tiba muncul sebuah kata ajaib dibenak sang ayah. Kata tersebut adalah “investasi”. Sang ayah mencoba menjabarkan kata investasi agar bisa diterjemahkan ke dalam dunia nyata. Beliau berpikir tentang menabung dibank, ikut dana pensiun, ikut asuransi jiwa, membeli banyak tanah, membuka lahan jati, dan masih banyak lagi. Tujuannya adalah mempersiapkan masa depan agar lebih terjamin.
PENGERTIAN INVESTASI
Apa yang ada di dalam pikiran kita bila kita membicarakan kata “investasi”? bagaimana  bentuk-bentuk dari investasi dan prosesnya?
Beberapa pengertian investasi
  • Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan produksi) dari modal barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Contohnya membangun rel kereta api atau pabrik investasi adalah suatu komponen dari PDB dengan rumus PDB = C + I + G + (X-M). Fungsi investasi pada aspek tersebut dibagi pada investasi non-residential (seperti pabrik dan mesin) dan investasi residential (rumah baru). Investasi adalah suatu fungsi pendapatan dan tingkat bunga, dilihat dengan kaitannya I= (Y,i). Suatu pertambahan pada pendapatan akan mendorong investasi yang lebih besar, dimana tingkat bunga yang lebih tinggi akan menurunkan minat untuk investasi sebagaimana hal tersebut akan lebih mahal dibandingkan dengan meminjam uang. Walaupun jika suatu perusahaan lain memilih untuk menggunakan dananya sendiri untuk investasi, tingkat bunga menunjukkan suatu biaya kesempatan dari investasi dana tersebut daripada meminjamkan untuk mendapatkan bunga (Wikipedia.org).
  • Ross dkk dalam Manurung (2008a: 47) mendefinisikan investasi sebagai konsumsi yang ditunda sementara waktu untuk dikonsumsi lebih besar di masa yang akan datang.
  • Halim (2005: 4) mengatakan bahwa investasi adalah penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa depan. Dana yang dimaksud sering kali berupa cash money.
  • Jogiyanto (2003: 1) mendefinisikan investasi sebagai penundaan konsumsi sekarang yang dimasukkan ke dalam aktiva atau proses produksi yang produktif yang hasilnya untuk konsumsi mendatang. Dengan adanya proses produksi yang produktif, investasi ke produksi ini dapat meningkatkan kepuasan (utility) individu.
  • Sunariyah (2000: 4) mendefinisikan investasi sebagai penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya dalam jangka waktu lama dengan harapan akan memperoleh keuntungan dimasa yang akan datang.
Penulis mencoba merangkum definisi-definisi yang disampaikan oleh para ahli. Investasi adalah kegiatan menunda konsumsi saat ini dimana dana penundaan konsumsi tersebut akan dialihkan kepada aktivitas-aktivitas ataupun dipakai untuk memperoleh asset-asset yang memiliki manfaat dimasa yang akan datang.
BENTUK INVESTASI
Umumnya investasi dibagi menjadi 2 (Halim, 2005: 4; Sunariyah 2000:  4), yaitu:
1)      investasi pada asset-aset finansial (ex. Deposito, commercial papper, surat berharga pasar uang, saham, obligasi, dan warran).
Jogiyanto (2003: 7) menjelaskan bahwa ada 2 macam investasi pada asset-aset keuangan, antara lain: investasi langsung dan investasi tidak langsung. Investasi langsung dilakukan dengan membeli langsung aktiva keuangan dari suatu perusahaan baik melalui perantara atau dengan cara lain. Sebaliknya investasi tidak langsung dilakukan dengan membeli saham dari perusahan investasi yang memiliki portofolio aktiva-aktiva keuangan dari perusahaan-perusahaan lain. Lihat gambar dibawah ini:


2)      Investasi pada asset-aset riil
Jenis investasi ini contohnya adalah pembelian asset produktif, pendirian pabrik, pembukaan pertambangan, dll).

PROSES MANAJEMEN INVESTASI

1. Menetapkan sasaran investasi
Fabozzi (1999: 2) menjelaskan bahwa ada 5 proses yang harus dilewati oleh seorang manejer investasi atau orang yang ingin melakukan investasi, yaitu seperti pada gambar di bawah ini:



Menetapkan Sasaran Investasi
Langkah pertama dalam proses manajemen investasi adalah menetapkan sasaran investasi. Sasaran yang ingin dicapai tergantung pada institusi itu sendiri. Halim (2005: 4) menjelaskan ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam melakukan investasi yaitu: (1) tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return), (2) Tingkat resiko (rate of risk), (3) ketersediaan jumlah dana yang diinvestasikan .
Apabila dana cukup tersedia, maka investor menginginkan pengembalian yang maksimal dengan resiko tertentu. Semakin tinggi resiko, semakin tinggi tingkat pengembalian (Manurung 2008b: 16). Bila investor memilih resiko rendah dengan tingkat resiko rendah, umumnya disebut risk averse (penghindar resiko). Investor yang menginginkan tingkat pengangguran yang tinggi dan mentolerir resiko yang tinggi biasanya disebut spekulan karena menyukai resiko yang tinggi.
Manurung (2008b: 16) menambahkan satu variable lagi, yaitu periode investasi (time horizon). Misalnya, investor mempunyai periode investasi selama 5 tahun maka investor bisa melakukan investasi kepada instrument investasi yang mempunyai periode 5 tahun, seperti obligasi lima tahun dan saham ataupun deposito.
Membuat Kebijakan Investasi
Langkah kedua dalam proses manajemen investasi adalah membuat pedoman kebijakan untuk memenuhi sasaran investasi. Hal utama yang harus diputuskan adalah keputusan alokasi asset/aktiva. Yaitu bagaimana sebaiknya dana investasi didistribusikan terhadap kelompok-kelompok aktiva utama yang ada. Kelompok aktiva utama umumnya meliputi saham, obligasi, real estate, sekuritas-sekuritas luar negeri.
Namun harus disadari bahwa ada banyak kendala untuk membuat kebijakan investasi. Kendala utama adalah dari klien dan peraturan yang ada.
a)      Dari klien, contohnya: klien ingin mempertaankan tingkat diversifikasi dan keamanan pada taraf tertentu, dan membatasi aktivitas aliran dana pada aktiva tertentu.
b)      Dari peraturan yang ada, misalnya pembatasan terhadap kelompok aktiva yang dapat diinvestasikan oleh intitusi keuangan. Selain itu ada juga kendala tentang persyaratan pembuatan laporan keuangan.
Pemilihan strategi portofolio
Strategi portofolio dapat dibedakan menjadi strategi aktif dan pasif. Strategi portofolio aktif menggunakan informasi-informasi yang tersedia dan tehnik-tehnik peramalan untuk memperoleh kinerja yang lebih baik dibandingkan portofilio yang hanya dideversifikasikan secara luas.  Portofolio pasif adalah strategi yang melibatkan input ekspektasional minimal dan sebagai gantinya bergantung pada diversifikasi untuk mencocokkan kinerja dari beberapa indeks pasar.
Dalam ruang lingkup obligasi, beberapa strategi yang dikelompokkan sebagai strategi portofolio terstruktur telah sering digunakan. Strategi portofolio terstruktur adalah suatu strategi dimana portofolio dirancang untuk dapat mencapai kinerja dari beberapa kewajiban ang harus dibayar.
Dari ketiga strategi diatas, manakah strategi yang terbaik yang harus dilakukan/dipilih? Jawabannya tergantung:
1. pandangan kien atau manajer keuangan mengenai pasar yang efisien
2. Karaketristik dari kewajiban klien.
Kita harus juga melihat efisiensi hara pasar, yaitu tingkat kesulitan yang dibutuhkan menghasilkan pengembalian yang lebih besar dari pada manajemen pasif, setelah dilakukan penyesuaian antara resiko dengan strategi dan biaya transaksi dengan penerapan strategi.
Pemilihan Aktiva
Proses ini membutuhkan evaluasi dari masing-masing sekuritas. Pada tahap ini manajer investasi harus berusaha mencanangkan portofolio yang efisien (portofolio yang memberikan pengembalian yang diharapkan terbesar untuk tingkat resiko tertentu atau tingkat resiko terendah untuk tingkt pengembalian tertentu.
Mengukur dan Mengevaluasi Kinerja
Langkah ini meliputi pengukuran kinerja portofolio dan selanjutnya mengevaluasi kinerja tersebut secara relative terhadap patok duka (bench-mark). Patok duga merupakan kinerja dari serangkaian sekuritas yang telah ditentukan, diperoleh untuk tujuan pebandingan.

RETURN DAN RESIKO
Seseorang yang melakukan investasi pastilah memiliki tujuan agar memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Setiap instrument investasi memberikan balas jasa dan balas jasa ini yang selalu diharapkan semua investor. Ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh oleh investor karena investasi yang mereka tanam, antara lain:
Tabel 1.1 Balas jasa asset
NO
ASET
BALAS JASA
1
Deposito
Bunga
2
Obligasi
Bunga (kupon) + kapital gain
3
Properti
Sewa + kapital gain
4
Saham
Dividen + Kapital gain

Investasi yang kita lakukan tidaklah selalu aman. Pasti ada resiko-resiko yang harus investor tanggung. Resiko-resiko yang harus ditanggung tergantung dari asset yang dipilih sebagai instrumen investasi. Biasanya, semakin tinggi return yang diharapkan didapat maka semakin tinggi pula resiko yang akan diterima oleh investor. Resiko didefinisikan sebagai perbedaan antara pengembalian actual dengan tingkat pengembalian yang diharapkan (Manurung, 2008b: 47) .
Adapun resiko yang selalu muncul dalam investasi adalah sebagai berikut:
1.      Interest-rate Risk, yaitu resiko utama yang dihadapi investor karena kenaikan tingkat bunga akan menurunkan harga obligasi dan tingkat bunga menurun kenaikan harga obligasi. Resiko ini juga sering disebut dengan market risk.
2.      Reinvstment Risk yaitu resiko yang dihadapi akibat investasi atas bunga yang diperoleh atas hasil strategi reinvestment. Interest rate risk dan reinvestment risk mempunyai efek yang saling menghilangkan (offsetting effect). Sebuah strategi yang didasarkan atas effect penghilangan tersebut disebut dengan imunisasi.
3.      Call Risk yaitu resiko yang dihadapi oleh investor dimana penerbit obligasi mempunyai hak untuk membeli kembali (call) atas obligasi tersebut. Bila tingkat bunga turun dibawah kupon obligasi dan biasanya penerbit akan menggunakan haknya untuk membeli obligasi. Investor biasanya bisa mengkompensasikan dengan kenaikan harga tetapi sangat sulit untuk melakukannya.
4.      Default risk yaitu resiko yang dihadapi investor atau pemegang obligasi dikarenakan obligasi tersebut tidak dapat membayar obligasi pada saat jatuh tempo. Investor harus hati-hati membeli obligasi yang tidak termasuk dalam investment risk.
5.      Inflation Risk yaitu resiko yang dihadapi investor pada saat kondisi inflasi sehingga arus kas yang diterima investor bervariasi dalam kemampuan membeli (purchasing power).
6.      Exchange Risk yaitu risiko yang dihadapi investor akibat adanya nilai tukar. Biasanya resiko ini akan ditemukan pada obligasi yang berdenominasi valuta asing.
7.      Liquidity Risk yaitu risiko yang dihadapi investor dalam rangka dapat menjual obligasi tersbut di pasar . Ukuran dari likuiditas dapat dilihat dari selisih antara nilai beli dan jual obligasi tersebut.
8.      Volatility Risk yaitu risiko yang dihadapi investor dikarenakan obligasi tersbut dikaitkan dengan opsi yang tergantung kepada tingkat bunga. Salah satu factor yang mempengaruhinya yaituvolatility dari tingkat bunga.

ARTIKEL SIM (SISTEM INFORMASI MANAJEMEN)

BERIKUT ADALAH beberapa ARTIKEL DARI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN (SIM) 1.Pengantar Sistem Informasi Manajemen merupakan  sistem informas...